Selamatkan 8 Burung Asli Indonesia Yang Terancam Punah

Posted by on May 25, 2015 in Archieves | 0 comments

Di Indonesia terdapat kurang lebih sekitar 1.500 jenis burung. Dari jumlah tersebut tidak sedikit yang terdaftar dalam kategori terancam punah (Critically endangered). Berikut ini burung asli indonesia yang sangat terancam punah :

  1. Celepuk Siau (Otus siaoensis)

Celepuk-Siau

 

 

 

 

Celepuk Siau adalah salah satu burung hantu dari jenis Strigidae. Burung ini merupakan burung yang hampir punah, burung Celepuk Siau yang mempunyai nama ilmiah Otus Siaoensis ini berhabitat di daerah Pulau Siau, Sulawesi Utara.

  1. Anis-bentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis)

Anis-bentet-Sangihe

 

 

 

 

Anis-bentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis) adalah spesies burung dari keluarga Colluricinclidae. Anis-bentet Sangihe merupakan hewan endemik Indonesia. Anis-bentet Sangihe memiliki habitat di kawasan Hutan pegunungan dengan iklim subtropik atau tropis lembap. Hewan ini termasuk hewan yang terancam, karena kehilangan habitat.

  1. Elang Flores (Spizaetus floris)

Elang-Flores

Elang Flores (Spizaetus floris) merupakan salah satu jenis raptor (burung pemangsa) endemik yang dipunyai Indonesia. Saat ini Elang flores yang merupakan burung pemangsa endemik flores (Nusa Tenggara) menjadi raptor yang paling terancam punah lantaran populasinya diperkirakan tidak melebihi 250 ekor sehingga masuk dalam daftar merah (IUCN Redlist) sebagai hewan yang sangat terancam punah (Kritis). Ciri-ciri. Burung elang flores mempunyai ukuran tubuh yang sedang, dengan tubuh dewasa berukuran sekitar 55 cm. pada bagian kepala berbulu putih dan terkadang mempunyai garis-garis berwarna coklat pada bagian mahkota.

  1. Gagak Banggai (Corvus unicolor)

Gagak Banggaiatau Corvus unicolor merupakan anggota dari gagak dari famili Banggai di Indonesia. Gagak ini terdaftar sebagai Spesies Kritis oleh IUCN dan pernah dianggap punah, namun akhirnya ditemukan kembali pada survei di Pulau Peleng pada 2007/2008. Gagak Banggai merupakan gagak yang berukuran sedang dengan panjang 39 cm dan benar-benar hitam dengan iris mata yang gelap dan ekor pendek. Penurunan populasi gagak Banggai disebabkan karena hilangnya habitat dan degradasi seperti pertanian dan ekstrasi.

  1. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) atau dikenal dengan nama Curik Bali merupakan sejenis burung sedang dengan panjang lebih kurang 25 cm. Burung pengicau berwarna putih ini merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya bisa ditemukan di Pulau Bali bagian barat. Burung ini juga merupakan satu-satunya satwa endemik Pulau Bali yang masih tersisa setelah Harimau Bali dinyatakan punah. Sejak tahun 1991, satwa yang masuk kategori “kritis” (Critically Endangered) dalam Redlist IUCN dan nyaris punah di habitat aslinya ini dinobatkan sebagai fauna identitas (maskot) provinsi Bali. Kepunahan Jalak Bali di habitat aslinya disebabkan oleh deforestasi (penggundulan hutan) dan perdagangan liar.

  1. Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)

Kakatua-kecil Jambul-kuning (Cacatua sulphurea) burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga Cacatua. Burung ini hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Daerah sebaran kakatua-kecil jambul-kuning adalah Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor, di tempat yang masih terdapat hutan-hutan primer dan sekunder. Pakan kakatua kecil jambul kuning biji-bijian, kacang, dan aneka buah-buahan.

  1. Merpati Hutan Perak (Columba argentina)

Merpati-Hutan-Perak

 

 

 

 

 

Merpati hutan perak merupakan burung yang termasuk dalam burung yang berstatus kritis dalam IUCN, merpati hutan perak Berukuran besar (40 cm), berwarna abu-abu pucat. Sayapnya berwarna hitam, ekor dan tubuh bagian bawah keabuan. penyebaran merpati hutan perak meliputi Kepulauan Simeulue, Mentawai (P.Sipura, Pagai utara),Kepulauan Riau (Karimun Besar, Batam, Bintan dan Kepulauan Lingga/Saya), Kepulauan Anambas, Natuna utara dan Kep. Karimata di ujung barat Kalimantan.

  1. Perkici Buru (Charmosyna toxopei)

Perkici-Buru

Perkici Buru (Charmosyna toxopei) dikenal sebagai burung endemik Pulau Buru. Burung ini merupakan burung yang berparuh bengkok langka. Dan hanya ada di Pulau Buru. Burung ini berwarna hijau atau kuning. Mahkota depan berwana biru, sedangkan betina, mahkotanya lebih jelas. Pangkal ekornya pada bagian bawah berwarna merah.